Tuesday, December 16, 2014

Jogja, 16 Desember 2014. Pagi ini mahasiswa/i INSTIPER sedang bersiap meluncur menjadi relawan yang akan berangkat menuju lokasi longsor di Banjarnegara. longsor yang terjadi pada hari jum'at, 12 Desember 2014 telah menyapu habis rumah di lereng bukit. Material longsor telah menimbun hidup-hidup 25 hektare, dengan 35 rumah dan 55 kepala keluarga. Dari 108 orang yang hilang tertimbun longsor baru 39 orang yang diketemukan meninggal dunia.

Wajah dusun Jemblung, desa Sampang (Banjarnegara) antara sebelum dan sesudah bencana tanah longsor dahsyat 12 Desember 2014 TU
Hingga saat ini pencarian pun masih terus dilakukan. mahasiswa/i INSTIPER pun tak mau kalah. pasukan relawan yang di gawangi UKM MAPALA MAPAKATA sebelumnya telah mendirikan posko peduli bencana. Dan mereka juga telah menampung sumbangan baik berupa pakaian, sembako, uang dan lain sebagainya. mereka yang memiliki jiwa sosial yang tinggi ini berangkat menuju Banjarnegara untuk membantu relawan lainnya yang masih terus mencari korban hilang. TIM Relawan ini berangkat dari INSTIPER pukul 18.00 WIB.

TIM SAR yang terlebih dahulu datang terus melakukan pencarian korban hilang yang tertimbun material longsor. TIM SAR yang terdiri dari TNI, PMI, dan Ormas-ormas yang bergerak di bidang kemanusiaan serta masyarakat sekitar tak kenal lelah dalam melakukan kegiatan kemanusiaan ini. walaupun dengan kondisi yang cukup buruk dan resiko adanya longsor susulan mereka siap dan rela demi mencari para korban hilang yang tertimbun material longsor.
TIM SAR masih melakukan pencarian korban hilang tertimbun material longsor
Peyebab longsor menurut investigasi yang dibentuk oleh tim investigasi UGM yakni Dwikorita menjelaskan akibat adanya sejumlah jalur patahan, kawasan Kecamatan Karangkobar memiliki tekstur daratan berbukit yang memiliki lereng curam dan tegak. Jalur-jalur patahan itu juga mengakibatkan ikatan lapisan batuan penyangga tanah saling terbelah dan rapuh.Efek patahan, yang memudahkan longsor terjadi ini, didukung dengan karakter lapisan di bawah tanah yang berupa batu lempung atau napal. Saat hujan lebat terjadi, air yang meresap ke dalam tanah tertahan oleh lapisan batuan itu.

Akibatnya, permukaan batuan menjadi licin. Gundukan tanah dalam jumlah besar di atas lapisan itu mudah bergerak melaju ke area bagian bawah. “Saya sudah pegang contoh lapisan batuan napal itu, permukaannya licin dan terpecah-pecah sehingga juga rawan ikut longsor,” kata Dwikorita. Lapisan tanah di atas batuan juga gembur karena banyak ditumbuhi pepohonan jenis perdu atau tingginya kurang dari enam meter. Adapun pohon-pohon lain yang tidak memiliki akar tunggang juga banyak tumbuh di sekitar lokasi longsor.

Sebuah Rumah Tampak tidak hancur akibat material longsor
Selain karakter wilayah yang memang rawan, Dwikorita mengamati banyak drainase berkualitas buruk. Hujan lebat menyebabkan banyak air meluber ke luar drainase dan membebani lapisan tanah di lereng.

Source : google.com, tempo.co, panjimas.com

0 comments:

Post a Comment